Dear all,
Sekedar sharing aja
Saya teringat suatu saat, pada saat saya masih dosen baru bertemu dengan pak Nyoman (dosen LB pengajar Sisfo Lanjut, pegawai LEN/INTI), beliau menasehati agar melanjutkan kuliah sampai dengan S3 jika memilih profesi dosen. Apakah hal ini berlebihan? Tentu saja tidak bahkan sangat logis( andalan orang IF
). Plus saya yakin beberapa pendapat ttg profesi dosen adalah : harus mempunyai JFA, harus punya target jadi profesor dsb dsb. Dan kembali lagi 100% logis dan tidak ada yang aneh atau luar biasa tentangnya.
Terlebih kenyataan kedepan dan sesuai dengan arah perkembangan institusi, trend saat ini adalah mulai banyak dosen-dosen menyelesaikan S3. Hal ini memicu dosen-dosen lain untuk merencanakan S3 atau direncanakan oleh fakultas untuk S3
. Ada apakah dengan menjadi S3? Teringat pada saat wisuda S2 di ITB 2007 yang lalu pak rektor ITB mengatakan bahwa S3 adalah penjaga dan pengembang ilmu, sampai saat ini inipun saya suka bertanya-tanya: ”emang S2 tidak?”. Sayapun masih terus mencari jawabannya.
Yang sedang saya coba jalani (masih jauh dari yang namanya berhasil karena baru research proposal udah 3 kali disuruh revisi, normalnya sih setahun he he he) menjadi mahasiswa S3 adalah mencari research question, merancang metodologi, evaluasi yang pada dasarnya adalah research proposal yang harus mempunyai kontribusi unik dan baru. Unik dan baru ini tidak selalu harus 100% baru, dalam buku: ”How to be PhD” memodifikasi suatu solusi/metode atau mengubah suatu metodologi/evaluasi atau menyesuaikan dengan konteks lokal juga dapat digolongkan memberi kontribusi baru dan unik.
Dalam konteks ini, ide dan kontribusi kita akan mempunyai scope global tanpa memandang dimana kita melakukan S3 kita, apakah di DN atau LN. S3 pada dasarnya tidak mengenal batas geografis karena nilai keunikan dan keterbaruan ide atau kontribusi haruslah dalam skala global, artinya S3 tidak boleh mempunyai kesamaan dengan mhs S3 di belahan dunia lainnya. Mekanisme untuk memastikan hal itu adalah publikasi dan proses review dari thesis kita.
S3 di LN mempunyai beberapa keunggulan, ini tidak berarti bahwa kualitas S3 di DN lebih rendah karena pada akhirnya banyak kondisi yang mempengaruhi dan menjadikan bahan pertimbangan.
Tulisan ini akan mencoba untuk mengulas beberapa kelebihan S3 di LN :
1. Networking : setelah menjadi alumni kita akan mempunyai networking dg uni kita.
2. Research Collaboration : peluang untuk berkolaborasi dengan uni/research center dg background uni tempat kita S3
Dua point diatas membuka peluang untuk Post Doc atau Research Collaboration setelah kita lulus S3 karena pengakuan thd tempat S3 kita
3. Dukungan infrastruktur (termasuk finansial) yang memadai : dukungan ini berasal baik dari sistem universitas atau negara yang sudah mempunyai sistem [pendidikan] yang maju dan kaya
4. Bahasa : dikarenakan S3 tidak mengenal batas geographis maka keuntungan kompetitif jika kita terbiasa menggunakan bahasa akademis internasional de-facto ( inggirs nomor 1, nomor 2 mungkin jerman atau perancis dst ). Secara akademis, bahasa Inggris saja tidak cukup karena secara akademis bahasa Inggris mempunyai vocab yang secara semantik tidak biasa digunakan untuk komunikasi sehari-hari.
5. Lain-lain : menjadi warga dunia( ada positif dan negatif-nya ) dsb.
Namun S3 di LN perlu dan mengaharuskan banyak pertimbangan karena itu berarti minimal 3 tahun kita harus menghadapi konsekuensi dari keputusan kita. Tidak ada hasil tanpa usaha. S3 di LN dengan beasiswa sangat layak untuk dipertimbangkan. Sudah banyak yang melakukannya, kita bukan yang pertama jadi kenapa tidak?
Semoga makin banyak rekan-rekan dosen yang menyusul ke LN.
salam,
Dana S. Kusumo
PhD Student in Computer Science and Engineering at UNSW, Sydney.